Bagian-2: Bidadari Tanpa Sayap
Penulis: Wedhya Wardani
Sempoyongan. Aku terus berjalan dalam iring-iringan.
Kakiku bergetar, sendi-sendiku semakin lama semakin lemah untuk menopang
tubuhku. Keringat dingin mengalir membasahi tengkuk diikuti pandangan yang bluur.
Ku-ucek mataku, hanya menambah keseimbanganku yang goyah. Bumi berputar dengan
cepat. Aku terjungkal dilangkah yang berat. Limbung. Terkapar dengan mata
mendelik.
Aku menatapnya lekat-lekat, berterima kasih, lalu segera memakan kentang dengan lahap.
Kulihat orang-orang berhambur menyerbuku, lengan-lengan
kurus namun berotot, meraih tubuhku dan menahan agar tidak jatuh ke tanah
pasir. Tapi, kurasa hanya dua pasang lengan yang benar-benar menahan, sebab
yang lain langsung terhalang oleh laras senjata prajurit. Sambil
berteriak-teriak prajurit mendorong agar barisan terus bergerak. Tapi seorang
lagi menyusulku. Ia melorot diantara himpitan tubuh teman-temannya. Ia
tergolek, wajahnya biru!
Diantara kesadaran yang kian menipis aku
masih bisa melihat, seorang lagi tumbang dengan memegang kepalanya. Membuat
para lelaki bertelanjang dada meringsek. Mendorong para penjaga yang
memalangkan bedilnya menyerupai pagar. Kemudian satu tembakan ke arah udara
melengking, memekakkan telinga. Menciutkan nyali para tahanan. Mereka menepi,
menjauh dan satu persatu menuju ke tempat seharusnya mereka bekerja.
Selanjutnya tiga orang bertubuh gempal,
bersama dengan prajurit segera menyeret tubuhku dan dua orang yang lain
disertai sumpah serapah yang tidak mampu kuingat. Karena kesadaran benar-benar
terenggut oleh sakit yang berdenyut-denyut di kepalaku. Selanjutnya hanya
gelap, pekat, aku tidak mengingat apapun.
*
Ujung kakiku terasa dingin, lalu menjalar ke betis,
hanya sebentar berpusar di perut, selanjutnya aku mulai kehilangan kesadaran. Buram
diantara cahaya yang menerobos dinding kayu. Kutangkap sekelebat bayangan putih
mendekatiku. Langkahnya kian dekat, namun aku tidak mampu melihat dengan jelas
wajahnya. Mungkinkah ini malaikat pencabut nyawa yang akan menanyai semua budi
dan perbuatan burukku selama hidup?
Aku semakin mengigil, gigiku beradu, mengerat-ngerat seperti orang
berpenyakit ayan. Sosok putih yang hanya membayang dalam pandanganku kian
mendekat. Ia memegang daguku, menekan rahangku dengan cukup kuat sehingga
mulutku terbuka. Selanjutnya Ia memasukkan sesuatu ke dalam mulutku, lalu
menyodorkan gelas ke bibirku. Reflek, aku meraih gelas dari tangannya. Meminum
isinya sekali teguk. Terasa dingin dan menyegarkan. Kembali kepalaku
berdenyut-denyut, menciptakan fatamorgana aneh, semua benda meliuk-liuk tidak
tentu arah, kian memusingkan. Menghimpit kesadaranku hingga aku terhempas tidak
sadarkan diri untuk kesekian kalinya.
*
Segaris sinar kuning keemasan menerobos dari jendela, membuat ruangan sedikit
hangat. Aku bergeliat, menyibakkan selimut dari tubuh, berupaya bangkit
walau badanku masih terasa lemah untuk meluluskan keinginanku. Alhasil, Aku
hanya mampu duduk menyandar, kemudian mengatur nafasku yang seolah tergencet
dinding batu.
“Goeden morgen,”
sapa seorang berpakaian serba putih muncul dari balik pintu. Aroma wangi mawar
memenuhi ruangan mengganti apek kayu yang berputar semalaman. Ia berdiri dengan
senyum ramah, menenangkan siapapun bahkan para pendosa sekalipun saat
melihatnya.
"Mungkin seperti ini perwujudan para
bidadari kelak," desisku sambil menguatkan tulang punggungku.
“Gunakan waktumu untuk
istirahat selagi berada disini,” lanjutnya sambil membuka keranjang rotan yang
ditentengnya. memecah semua imajinasiku. Kiranya aku masih ada di pulau yang
merupakan benteng pertahanan kompeni.
“Makanlah." Ia menyodorkan kentang rebus.
Aku beringsut menerima
kentang dari tangannya. Sejenak aku mengamati benda dikedua tanganku,
'duchhhh..... gusti..... kok baik sekali nasibku.' bisikku dalam hati.
"Makanlah segera,
sebelum para prajurit menjemputmu."
Aku menatapnya lekat-lekat, berterima kasih, lalu segera memakan kentang dengan lahap.
“Makanlah perlahan. Aku
tahu mereka tidak memberi makanan yang cukup untuk kalian,” yakinnya sembari
menyodorkan gelas tembikar berisi air. Hanya beberapa kali teguk isinya pun
tandas.
“Apa sekarang kamu sudah mulai merasa baik?”
tanyanya dari tempatnya berdiri. Aku menganguk sambil memegang perutku
yang kini menjadi padat.
“Goede!” ujarnya, sambil membereskan penutup
keranjang rotan yang sudah kosong. Sejenak kemudian ia menatapku lurus,
membengkokkan pandanganku ke arah lantai kayu yang telah banyak keropos.
“Mungkin orang-orang di pelabuhan sudah melupakanmu, jadi sebaiknya kamu
istirahat,” Lanjutnya.
*
Sinar tembaga kian benderang menyisir tanah
ONRUSH yang terus sibuk dengan kapal-kapal yang datang dan pergi. Sementara
diklinik aku berangsur membaik. Sedikit demi sedikit aku bangkit , bergerak
menyusuri ruangan bercat kapur putih. Ada dua tempat tidur dari kayu
berjajar berdampingan, satu set meja kursi terletak sedikit menyudut, di
sampingnya terdapat rak kayu yang posisinya tidak tegak, agak miring ke
kiri.
Sementara itu sang suster sibuk dengan botol-botol obat. Namun pada saat ia
hendak membereskan beberapa peti kayu, aku segera menawarkan diri untuk
membantunya.
"emmmm...," ia berdehem. Ragu jelas terlihat dari ekspresi wajahnya.
Aku tidak mengindahkannya. Aku mengangkat peti-peti kayu dan meletakkannya di
salah satu sudut ruangan.
"Sudah nyonya," laporku
Menepis
kekhawatirannya atas kondisiku yang belum pulih sepenuhnya. Selanjutnya aku
merapat ke samping lemari dan menunjukkan padanya bahwa rayap sudah mengerogoti
kaki lemari, tentu perabot tersebut terancam runtuh jika kakinya runtuh. Suster
tersenyum dan mengatakan ia sudah mengetahuinya, bahkan masih banyak perabot
lain yang kondisinya sama bahkan lebih parah.
“Aku tidak menemukan orang untuk membantuku,
semua tenaga dikerahkan hanya untuk membangun tanggul pengaman pantai, dan kegiatan
bongkar muat kapal,” keluhnya.
“Bisakah kita mengeluarkan isinya?” tanyaku.
Kening suster berkerut. Tapi setelah kukatakan bahwa aku akan menolongnya
untuk memperbaiki lemari tersebut, berikut perabot yang lain. “Tentu jika anda
mengijinkannya,” tambahku, membuatnya berseri.
Wanita bergaun panjang tersebut segera
membuka lemari. Pertama ia mengeluarkan dua mangkuk putih seperti yang
biasa digunakan oleh orang-orang Tionghoa namun lebih tebal dan dangkal. Aku
mengangkat stoples berisi kapas. Lalu giliran botol-botol berukuran kecil yang
masing-masing memiliki tanda. Dan paling akhir adalah keramik seukuran belanga
bergambar naga dan untaian bunga teratai.
Selanjutnya dengan susah payah, Aku dan
suster merebahkan lemari di lantai. Langkah berikutnya, aku pergi ke galangan
untuk mencari kayu sebagai pengganti kaki lemari. Ternyata tidak sulit seperti
yang kubayangkan, dengan mudah kudapatkan sepotong kayu, sisa bahan perbaikan
kapal. Aku juga meminjam beberapa alat pertukangan, dan berjanji akan segera
mengembalikan setelah waktu istirahat bagi para pekerja, buruh dan budak.
Di bawah daun-daun pohon Ketapang[1] yang lebar, aku memotong balok kayu setelah mengukurnya terlebih dahulu. Agar hasilnya lebih halus, aku menyerut beberapa kali dengan hati-hati. Sesekali kuangkat potongan kayu, mengukurnya ulang, apakah telah simetris atau sudah rata sesuai bentuk yang aku inginkan, jika belum aku menyerutnya sedikit demi sedikit hingga kudapatkan ukuran yang sesuai.
Di bawah daun-daun pohon Ketapang[1] yang lebar, aku memotong balok kayu setelah mengukurnya terlebih dahulu. Agar hasilnya lebih halus, aku menyerut beberapa kali dengan hati-hati. Sesekali kuangkat potongan kayu, mengukurnya ulang, apakah telah simetris atau sudah rata sesuai bentuk yang aku inginkan, jika belum aku menyerutnya sedikit demi sedikit hingga kudapatkan ukuran yang sesuai.
“Hey Budak! Rupanya kamu tidak jadi mati?” teriak seorang
berseragam yang memecahkan siulan daun ketapang yang digesek angin pantai.
Aku
tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sinar matahari yang menyiram hamparan
pasir yang terbentuk dari pecahan-pecahan karang membuat hari terlalu terang
dan menyilaukan. Kuawaskan pandanganku, tapi sia-sia, hanya tiga siluet yang
semakin dekat.
Setelah beberapa depa baru kuketahui yang datang adalah orang yang
membeliku dari seorang pedagang budak dengan harga 10 Stuiver[2]. Ya, seperti biasa Major Williem
berjalan dengan langkah berat, selain karena postur tubuhnya yang tambun juga
karena seragam birunya yang ketat dan penuh dengan rumbai-rumbai, menjadikan
langkahnya sedikit terpendam ke dalam pasir. Ia melambai ke arah sang suster
yang berdiri di ambang pintu, meninggalkan dua orang buruh bertelanjang dada
yang mengikutinya tertatih. Setelah memberi salam pada sang Major, Akupun
segera berlari mendekati dua orang lelaki yang salah satunya dalam keadaan
terluka.
Kami memapah buruh kapal masuk ke dalam
klinik. Suster yang telah siap dengan perlengkapan pengobatannya menyambut kami
dengan perintah.
“Bawakan aku air.”
Buru-buru aku mengambil bejana berisi air berikut kapas dan kain pengikat.
“Is het seriues?” tanya major sambil
mengelus topinya reflek.
“De wond is niet ernstig" terang suster Merie, sementara tangannya bekerja, membersihkan luka, memberikan cairan obat kemudian menutupnya dengan kapas. "Geef een dag rust,” lanjut sang suster sambil mengikat pparban kain dengan sangat terampil.
“Wat voor?” tanya Williem gusar.
Suster Merie menghela nafas, ia melirik ke arah sang Major, Tentu tidak akan mudah menyarankan sesuatu pada Penguasa Onrush tersebut, terlebih jika menyangkut keringanan bagi para pekerjanya.
“Niet serieus,” Williem memastikan.
“Nee.” jawab suster ketus.
“Goed!" seru Williem serta merta memecah kesunyian. Hal tersebut membuat lega semua orang yang berada di ruangan. Sebab ada nasehat bahwa jika kita memiliki Meneer, adalah tugas kita untuk selalu mengusahakan agar ia senang, sebab semua urusan akan menjadi mudah.
Sang suster membalikkan badannya. Kini
keduanya berhadap-hadapan. "Laat de slaaf me helpen," Kini pandangan keduanya mengarah padaku.
"Waarom" sahut Major dengan wajah bertanya-tanya.
Suster Merie melangkah ke arah lemari lalu berjongkok disisinya. Kemudian ia menerangkan bahwa rayap-rayap yang mungkin sama laparnya dengan para pekerja telah merusak sebagian besar perabot yang ada. Apabila tidak segera diperbaiki mungkin dirinya akan minta untuk membelikan yang baru.
"Waarom" sahut Major dengan wajah bertanya-tanya.
Suster Merie melangkah ke arah lemari lalu berjongkok disisinya. Kemudian ia menerangkan bahwa rayap-rayap yang mungkin sama laparnya dengan para pekerja telah merusak sebagian besar perabot yang ada. Apabila tidak segera diperbaiki mungkin dirinya akan minta untuk membelikan yang baru.
“Het spijt me, Major," kata sang suster mengakhiri penjelasannya. Mata
indahnya tidak berkedip lurus menerobos kornea Williem. seolah hendak
mengatakan bahwa telah banyak keuntungan, kemakmuran, kemewahan. Bahkan di pulau yang merupakan benteng sebelum masuk Batavia ini, dirinya telah hidup bagaikan
raja kecil yang nyaris tidak pernah kekurangan apapun. Namun tetap ia masih
merasa kurang bahkan merugi. Jangankan memperhatikan kebutuhan klinik, kebutuhan dasar bagi pekerjanya ataupun budaknya saja masih jauh dari memadai.
Sekali sang Major mengkerutkan keningnya, sementara Merie tidak bergeming. Ia menunggu persetujuan pria yang berdiri di seberangnya. Dimana hal tersebut membuat Sang Major menjadi serba salah. Majorpun melangkah ke pintu sambil mengelap keringat di kedua pelipisnya, udara yang kering membuatnya kian merasa gerah juga tersiksa. Sampai Ia berkata, "Geen Problem."
Sekali sang Major mengkerutkan keningnya, sementara Merie tidak bergeming. Ia menunggu persetujuan pria yang berdiri di seberangnya. Dimana hal tersebut membuat Sang Major menjadi serba salah. Majorpun melangkah ke pintu sambil mengelap keringat di kedua pelipisnya, udara yang kering membuatnya kian merasa gerah juga tersiksa. Sampai Ia berkata, "Geen Problem."
“Dank je Major," sahut Merie, ia menganggukan kepalanya dengan santun.
“Hopelijk, maak je een goed rapport voor mij," seru Williem sambil membalikkan badan.
“Ik zat het onthouden,” sahut Merie melepas kepergian Williem sampai di ambang pintu.
_________
.....Namun tahukah engkau Suster; aku yang mungkin telah lupa akan
namaku, tempat kelahiranku, saudara dan kerabatku, atau tentang cerita masa kecilnya yang tergilas waktu akan terus mengingat budimu wahai Bidadari
tanpa sayap.
*
[1] Pohon
Ketapang: pohon besar, daunnya lebar, buahnya bertempurung keras, kulitnya
untuk menyamak kulit, bijinya dapat dibuat minyak; (Terminalia Catapa)
[2] Stuiver
yakni mata uang Belanda dimana 1 Guilden = 20 Stuiver
Komentar
Posting Komentar