Bagian 3: Jan Pieterzoon Coen


Penulis: Wedhya Wardani
Kisah Sebelumnya
Bagian ke-2: Bidadari Tanpa Sayap

Seorang kepala tukang --orang yang ahli yang dibidang kapal-- berkeliling, mengecek dengan teliti keadaan kapal yang baru saja datang dari perjalanan panjang. Selanjutnya ia membagi tugas dan menerangkan apa yang harus kami lakukan. Aku mendapat tugas untuk mendempul lambung kapal. Dibawah petunjuk dan pengawasannya aku mulai dengan pekerjaan baruku. Mula-mula menyumpal sambungan, atau lubang kecil dengan sabut kelapa kemudian mendempulnya dengan bubuk kapur yang telah dicampur dengan minyak jarak. Setiap lapisan sambungan didempul dengan teliti dan hati-hati, agar air laut tidak merembes ke dalam kapal. Selain sangat berbahaya akan fatal akibatnya yakni kebocoran bahkan karamnya sebuah kapal, begitu terang kepala tukang.
Tatkala bayangan kincir angin jatuh ke arah timur, aku bergegas menyudahi pekerjaanku dan berlari ke satu-satunya klinik di pulau ini. Menjumpai Suster Merie untuk membantunya memperbaiki perabot kayu yang rusak dan mengganti beberapa dinding papan klinik yang keropos. Tidak itu saja aku juga membantunya menimba air dan menyiapkan kayu bakar. 
Mungkin melihat kerajinan dan kepatuhanku, Merie menawariku belajar mengenal alfabet, sekaligus membaca dan menulis. “Puji syukur pada dhurmeing gusti,” adalah kata pertama yang meluncur dari bibirku yang tebal dan kering. Tentu pengajaran ini merupakan sesuatu yang luar biasa, diluar angan apalagi harapanku sebagai seorang sahaya. Gerbang kegelapan dibuka dengan lima huruf vokal yang merupakan pembentuk satu kata bahkan kalimat. 
Dengan bantuan sepotong ranting, suster Merie melukis satu demi satu bentuk huruf di atas pasir – huruf yang dulunya tidak lebih sebagai simbol semata. Kini ia seperti bintang-bintang yang bersinar penuh arti. Aku mengikutinya, membentuk gambar yang sama sambil berlatih mengucapkannya. Demikianlah aku mulai belajar, melek[1] huruf dan sedikit demi sedikit mengenal kata dan kalimat.
*

Kini hari-hariku lebih benderang, baik siang atau malam. Bahkan di dalam barak yang pedut[2], yang mana baru tahu ada seseorang disamping kita, hanya dari tarikan nafasnya saja. Huruf-huruf yang dikenalkan si-susterlah yang mencerahkanku. Membuatku menggigau, kesurupan, dan terus merapal kata. Huruf-huruf terus menari-nari laksana kunang-kunang di dalam tempurung kepalaku yang telah lama pekat. Aku keranjingan alfabet, aku kecanduan kata, dan aku selalu tidak sabar agar petang pecah menjadi benderang serta matahari tergelincir menuju sore, dimana aku menderas kosa kata baru, mengerti dan memahami satu kalimat yang paling sederhana. Itu adalah mukjizat!  
*

Minggu sore, disaat cahaya violet telah sepenggalan, aku duduk takjim mirip patung dhyani[3]. Angin laut berhembus, bersuit-suit lembut di telinga, aku menatap Merie yang diam penuh pesona. Layaknya seorang hamba yang menghadap Ibunda Ratu agar mendapatkan restu, atau para pelayat yang tengah memohon pada sang Ibunda Dewi Sri agar panennya melimpah ruah. Maka aku sangat mengharap agar Suster Merie tidak berlama-lama mengulur waktu untuk mulai membaca cerita hari ini.
Merie mengambil duduk, di atas balok jati, tempat tatakan yang biasa aku gunakan untuk memotong kayu bakar.  
“Kali ini tentang tokoh fenomenal. Seorang pendiri Batavia, Mr. Jan Pieterzoon Coen yang terhormat,” jelas Merie memberitahukan tokoh utama dalam cerita yang hendak ia bacakan. Menenangkanku yang semakin tidak sabar untuk segera mendengarnya membaca. 
Sejenak pandangan Suster Merie beralih, lepas nun jauh disana. Riak wajahnya menjadi serius, bahkan lebih serius dari saat melihat orang terluka yang datang ke kliniknya. Matanya sebentar terpejam, hening dengan ketenangan yang selalu dimilikinya. Suster yang sudah “oudgasten”[4] ini seolah sedang menarik semua energi yang ada, untuk menimbulkan kekuatan di dalam penceritaannya. Tapi perlukah hal tersebut dilakukan setiap kali membaca sebuah cerita? Entahlah! Namun setelah lama kufikir dan Merie selalu melakukan hal yang sama, maka kusimpulkan ini adalah tata cara sebelum membaca cerita. Kelak jika aku sudah mahir membaca, aku harus berlaku demikian. Aku kan mengingatnya.
Merie membuka sampul depan yang lebih tebal dari lebaran-lembaran isinya dan narasi diawali dengan satu kota kecil Hoorn di pesisir pantai yang merupakan tempat salah satu komunitas pelaut-pelaut ulung di Zuider Zee, dimana Coen lahir dan melewatkan masa kanak-kanaknya yang bahagia. Memasuki usia remaja, Coen muda pergi ke Roma, di sana ia belajar dengan tekun dan mendalami sistem pembukuan Italia yang lebih maju dibanding dengan sistem yang di pakai oleh negeri-negeri belahan utara Eropa. 
Setelah menyelesaikan studinya Coen kembali ke Belanda. Pada tahun 1607 ia bergabung dengan armada kompeni, Coen berlayar ke Indonesia dengan membawa perintah khusus yakni menjamin monopoli di kepulauan penghasil rempah-rempah. Sayangnya ekspedisi pertamanya gagal. Laksamana Verhoeff yang merupakan komandan ekspedisi terbunuh saat bentrok dengan orang-orang Banda yang pada waktu itu didukung oleh orang-orang Inggris. 
Setelah kepulangannya ke Belanda di tahun 1610, Coen kembali menggalang pendukung dan juga berhasil  menarik simpati para direktur Kompeni. Ia dipercaya menjadi komandan utama yang membawahi dua kapal serta mendapatkan gelar sebagai pedagang kepala. Setelah tiba kembali di Indonesia tahun 1612, Gubernur Jenderal Pieter Both mengangkatnya sebagai kepala pemegang buku dan direktur dagang di Banten. 
Dengan posisinya yang baru Coen mulai menuliskan program politiknya dan melaksanakan rencana-rencananya yang spektakuler lebih dari itu dinilai ambisius, karena banyak ditentang oleh berbagai kalangan waktu itu. Namun karirnya terus menanjak bahkan saat usianya 31 tahun, Coen  menduduki jabatan tertinggi sebagai Gubernur Jenderal Hindia. Keberhasilannya mendapatkan kepercayaan, membuat Coen semakin bebas mengeluarkan ide-idenya yang kian ditentang dan diperdebatkan oleh para direktur kompeni Belanda, yang salah satunya adalah gagasan untuk membuat permukiman koloni Belanda. Tentu disamping pemikiran-pemikiran dan imajinasi lain yang briliant guna memperbesar imperium komersial yang diimpikannya. Coen semakin tidak terkendali, terus melesat bagai anak panah menuju titik tujuan, mewujudkan semua rencananya tanpa bisa dicegah oleh siapapun.
Dilain pihak, perbedaan pendapat dan kesalahpahaman yang terus meruncing dengan Pangeran Jayakarta, juga tekanan dari para pesaing VOC, membuat JP. Coen terdesak dan terusir dari Jayakarta. Namun pada bulan Mei 1619, JP. Coen datang kembali ke Jayakarta disertai 16 buah kapal lengkap dengan armada yang siap tempur. Mereka memasuki pelabuhan dan dengan cepat melakukan serangan berkekuatan 1.000 orang. 
Bumi Jayakarta basah oleh darah, Kraton dibakar - asap membumbung hingga menutup langit, tempat-tempat strategis dikuasai dan langsung diambil alih. Coen sang pemberani bersama pasukannya menang mutlak. Persis di akhir bulan pada tahun yang sama, Jayakarta benar-benar tunduk di bawah bendera kerajaan Belanda. Sebagai tanda kemenangannya, Coen yang gagah mengganti nama Jayakarta menjadi  Batavia
Selanjutnya di tempat tersebut atas perintah Coen didirikanlah benteng baru yang lebih besar dan satu kota kecil. Pembangunan dimulai dengan gedung perkantoran, kemudian perumahan, loji yang merupakan gudang untuk menyimpan barang-barang yang akan dikirim. Lalu dibuat kanal-kanal, berikut jembatannya. Dan untuk memperindah tata ruang kota pohon-pohon perindang ditanam sepanjang aliran kanal, menyejukkan sekaligus mempercantik kota. 
“Coen, seorang yang romantis,” puji Merie penuh emosi.
“Apa maksudnya?” tanyaku.
“Karena ia merancang Batavia semirip mungkin dengan gaya bangunan dan tata kota di Tanah air kami,” terang Merie lagi. Kali ini senyumnya ikut mengembang dan matanya membulat. Ia benar-benar terlihat senang. “Mari kita lanjutkan ceritanya.” Aku mengangguk, setuju.
Batavia terus berkembang sebagai kota yang menjanjikan baik untuk para imigran atau bumiputera (pribumi), bahkan merupakan tempat rendezvous bagi pelaut yang datang dari berbagai arah mata angin. Begitu termashyurnya Batavia sehingga orang-orang juga menyebut kota ini sebagai “Koningen Van Het Oosten” atau Ratu dari Timur. Coen terus memerintah dengan gemilang, membawa kebaikan dan kejayaan bagi seluruh kerajaan sampai penyakit tropis yang ganas merenggut sang patriot sekaligus negarawan sejati pada malam yang dingin dan beku. 
“Tepatnya 20 September 1629 Coen menyudahi perjalanan hidupnya dengan kedamaian.” Merie menutup ceritanya. Matanya sedikit berkaca-kaca. 
Aku pura-pura tidak melihatnya. Berpaling, melempar pandanganku sejauh mungkin. Lepas ke seberang laut, ke arah barat, berjarak ribuan tombak, disanalah Kasteel Batavia berada.
--**--
Lanjutkan membaca:
Bagian ke-4: Kapal Pengintai



[1]  Melek (Bhs Jawa) = Melihat
[2]      Pedut (Bhs Jawa): Gelap gulita
[3]      Dhyani: Patung Budha dengan posisi bersemedhi
[4]      Oudgasten (Bhs Belanda): Orang-orang yang telah lama tinggal di Hindia (negeri jajahan)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian-2: Bidadari Tanpa Sayap

Bagian-4: Kapal Pengintai

Bagian-5: 'Bacca' dari Pegunungan Muller