Bagian-4: Kapal Pengintai

Penulis: Wedhya Wardani

Kisah Sebelumnya:

Bagian Ke-3 Jan Pieterzoon Coen

Siapa yang akan mengira jika pulau yang terbentuk dari batuan karang dan secara geologis tanahnya yang berupa pasir awalnya disangka dan dipastikan tidak akan mampu memberi kontribusi yang lumayan. Nyatanya kini menjadi berkembang dan merupakan tempat persinggahan bagi pelayaran dan arus perdagangan. Pemikiran yang kurang wasis, keterburu-buruan dan ketamakan para pemangku wilayah untuk mendapatkan keuntungan telah menjungkir balikkan keadaan menjadi seperti saat ini. 
Satu perusahaan yang merupakan kepanjangan tangan dan kepentingan dari pemerintah Nederland selanjutnya dengan bebas menggunakan pulau di teluk Jayakarta. Benteng pertahanan, barak, gudang berikut pendukung lainnya didirikan, kayu-kayu ditebang untuk pembuatan dermaga dan kapal-kapal. Telah merubah seeokor anak kucing menjadi singa, menyulap pulau kosong menjadi oase[1] yang wajib didatangi oleh siapapu yang melintas sebelum masuk ke Sunda Kelapa. Telah menguatkan kuku sang pendatang untuk mencengkeram lebih kukuh; dimana Onrust telah berkembang selain sebagai galangan kapal juga menjadi tempat pertahanan yang sangat strategis.
Sekarang, manakala pasak-pasak telah kokoh di tancapkan dalam tanah, bendera lambang kebesaran dikibarkan dan kekuasaan telah menjadi tali kekang; semua mata terbelalak, berbagai pihak iri, mencoba menikung, menjegal, mengincar layaknya seekor rusa yang diincar oleh para pemangsanya. 
Bagaimana tidak? Pulau yang seperti namanya “sibuk” dan memang demikianlah kenyataannya. Tidak ada waktu siang atau malam, Onrush  tidak pernah tidur. Kapal-kapal dari berbagai penjuru dengan muatan berharga datang dan pergi, selain berdagang sekaligus untuk memperbaiki kapalnya, membuat pendapatan berikut peredaran uang meningkat. Merupakan salah satu alasan, kenapa para Kanjeng yang merasa memiliki kuasa atas pulau ini dan para eropa lainnya--Inggris dan Portugis— mulai berupaya untuk  merebutnya.
Dilain sisi, empu yang membesarkan dan menghidupkan perdagangan disekitar perairan tersebut tentunya tidak akan suka rela menyerah begitu saja. Karenanya lewat persatuan dagangnya, Londo[2] membangun benteng pertahanan serta menempatkan prajurit dengan tujuan untuk mengamankan juga sebagai tempat pengintaian sekaligus pertahanan digaris depan atas wilayah disekitar perairan teluk Jayakarta dan melindungi Batavia, yang merupakan kota pusat administratifnya.
“Vuur een kanon af!!!” teriak major Williem, diikuti oleh tembakan meriam yang tertuju pada kapal tak berbendara yang hendak melintas di perairan Onrush. Meriam meledak di sisi kanan kapal pelintas, membuatnya oleng beberapa saat. 
“Haast je! Munitie,” seru kepala prajurit memberi perintah agar kami segera mengisi bubuk mesiu dan memasukkan peluru besi. 
“Klaar!”
“Wacht! tahan major Williem sambil membetulkan posisi teropong. Mengawasi kapal yang sepertinya akan berbalik arah.
Ini bukan kali pertama ada kapal yang mengintai Onrush. Bahkan pernah ada juga yang mencoba menyerang dengan menembakkan meriam ke benteng. Namun sejauh ini semuanya berhasil dihalau. 
Setelah yakin bahwa kapal yang tidak diketahui identitasnya tersebut mulai berlayar menjauhi perairan Onrush, Williem memberi perintah agar pejagaan diperketat. Karena kemungkinan kapal yang urung melintas tadi akan mencoba lagi untuk mendekati Onrush. Major benar-benar menegaskan kepada para prajuritnya agar tidak membiarkan satu kapalpun melewati Onrush tanpa pemeriksaan tidak terkecuali kapal berbendera Belanda, bisa jadi hal itu hanya tipuan.

**

“Major!” seru Jansen dari arah berlawanan. Langkahnya cepat, memburu ke arah Williem yang baru saja selesai memberi arahan kepada para prajuritnya.
Setelah jarak mereka cukup dekat, Jansen segera memberi hormat.
“Ja, Letuinant.” Mata Williem penuh selidik, menduga-duga berita apa yang dibawa oleh orang kepercayaannya itu.
Sejenak Jansen menata nafasnya, kemudian ia melaporkan jika kapal patroli telah menemukan kapal yang terseret arus tidak jauh dari pulau khayangan. Petugas telah memeriksanya dan  kemungkinan kapal tersebut diserang oleh bajak laut. Petugas juga menemukan awak kapal yang selamat namun kondisi mereka dalam keadaan terluka dan mengenaskan. Saat ini kapal tersebut tengah ditarik menuju galangan Onrush.
Raut muka Williem terlihat lebih serius setelah mendengar laporan Jansen. Munculnya kapal pengintai dan sekarang temuan kapal seolah memberinya tanda jika sesuatu yang berbahaya tengah mengancam. Onrush sudah menjelma menjadi primadona, banyak pihak mengawasi dan siap mengambil alih, hal ini sangat disadari oleh Williem. Pengalamannya selama ini sebagai pemimpin pasukan telah membuatnya cepat dalam memahami setiap perubahan yang terjadi. “Laten we kijken!” seru Williem. 
Keduanya segera berbalik dan menuju ke dermaga, aku dan seorang lainnya mengikuti dari belakang. 
**

Sampai di galangan, telah banyak orang yang berkumpul. Sang Major langsung menjejalkan badannya yang subur diantara kerumunan orang, cukup memberiku jalan untuk turut masuk dan merinsek ke jajaran paling depan. Jansen lansung memimpin jalannya evakuasi sementara ketua regu patroli yang menemukan kapal tersebut segera menjumpai Williem dan langsung memberi keterangan terkait kapal yang mereka temukan. 
Seperti yang sudah disampaikan oleh Leutnant Jansen sebelumnya bahwa saat mereka berpatroli, mereka menemukan kapal yang terombang-ambing terbawa arus. Selanjutnya karena penasaran, mereka memeriksa kapal yang kondisi berantakan yang diduga akibat serangan perompak. Mengingat lokasi tempat ditemukan kapal dan pulau Onrush tidak terlalu jauh maka mereka meminta tolong pada salah satu kapal dagang yang kebetulan melintas agar membantu mereka untuk menyeret kapal tersebut sampai ke galangan Onrush. 
“Dat is het verhaal, Meneer,” Jelas kepala Patroli.
Alis Major williem berkerut. Selanjutnya ia menanyakan, apakah mereka menemukan awak kapal yang kemungkinan selamat sehingga bisa memberi keterangan yang diperlukan.
 “Kami sedang menurunkannya dari kapal. Itu mereka!” tunjuk si kepala patroli. 
Dari atas kapal prajurit dan beberapa pekerja mulai mengevakuasi awak kapal yang ditemukan. Dua orang dalam kondisi sadar, namun salah satunya mengalami goncangan jiwa, sesekali ia berteriak tidak jelas. “Aga! Aga! Aga!” ia mengulang-ulang dengan sorot mata liar. Sedangkan tiga orang lainnya dalam kondisi yang lemah dan tidak sadarkan diri, dimana salah satunya adalah seorang bocah lelaki.
Cahaya di kaki Onrush sudah surut saat kelimanya berhasil diturunkan dan dihadapkan di depan pemimpin tertinggi Onrush. Selanjutnya Jansen yang sejak tadi mengatur evakuasi memberi tahu bahwa kapal sudah dalam keadaan kosong bahkan tidak ada barang berharga yang tertinggal, penyerang kapal tersebut telah membawa semuanya.
“Lantaarn[3]!” pinta Williem. 
Buru-buru aku mendekatkan lentera, agar Major Williem bisa melihat dengan jelas awak kapal yang ditemukan. 
“Tiga orang tidak sadarkan diri, sebaiknya dibawa ke klinik agar bisa dirawat,” terang kepala patroli.
Nee! Ga naar de gevangenis! En verbrand de boot!” perintah Williem.
Seketika keriuhan menjadi hening. Buru-buru Jansen mendekati Williem. Jansen memastikan jika kapal itu bukan ancaman sehingga tidak perlu dibakar. Lebih dari itu Jansen telah memiliki rencana bahwa kapal tersebut bisa menghasilkan uang.
“Apakah kamu masih ingat, kisah tentang ‘Trojaans Paard’?” jelas Williem membuat Jansen terpana untuk beberapa saat. Namun kembali ia menegaskan bila dirinya sudah memeriksa setiap sudut kapal dan tidak ada satu bagian yang mencurigakan.
Williem tidak bergeming dengan keputusan yang diambilnya untuk membakar kapal tersebut malam ini juga. Menjaga keamanan Onrush adalah yang menjadi pertimbangan utama mengingat pulau tersebut saat ini sedang diintai oleh banyak pihak. 
Sebaliknya Jansen melihat bahwa kejadian hari ini justru sebagai peluang. Penyelesaian masalah atas kesulitan yang tengah dihadapi oleh company terutama dalam hal dukungan dana operasional untuk Onrush. Karenanya ia bersikeras untuk menyakinkan Williem bahwa skenario kapal tak bertuan merupakan jebakan yang dibuat oleh pihak musuh adalah tidak benar, untuk itu Jansen akan memerintahkan seluruh prajurit berjaga di sekitar kapal dan ia sendiri yang akan mengawasinya.  
“Jansen!” bentak Williem.
“Ik beloof het,” janji Jansen, memastikan untuk yang kesekian kalinya agar Williem mempercayai apa yang akan dilakukannya. 
“Verdomme!” gerutu Williem sambil meninggalkan galangan dengan langkah panjang.
Jansen tersenyum puas sambil mengawasi punggung seniornya, karena usahanya yang nyaris gagal pada akhirnya membuahkan hasil.
“Tunggu apa lagi? Bawa mereka semua ke penjara!” teriak Jansen.
“Sepertinya satu orang sudah meninggal Leutnant,” terang seorang prajurit.
Wajah Jansen bersungut menandakan ia kurang senang dengan apa yang didengarnya. Ia mendengus mendekatkan wajahnya lalu berkata, “Masukkan saja semua ke penjara! Jika ada yang tidak mematuhi perintah, kepala kalian yang jadi gantinya!”
“Ja. Leutnant!” jawab sang prajurit.
“Goed!”
Segera Jansen memerintahkan pada beberapa orang untuk menyalakan obor di sekeliling kapal. Ia juga menempatkan beberapa prajurit untuk berjaga mengawasi kapal tersebut. Sementara itu, aku yang mengendong bocah --salah satu awak kapal-- mengikuti langkah prajurit yang menggiring awak kapal yang kondisinya kian lemah ke penjara.
Tubuh keringnya memamerkan tulang-tulang yang dibalut kulit berwarna coklat tanah. Mengambarkan kemelaratan pada umumnya pribumi. Rambutnya lurus kasar lagi kusam berwarna kemerahan akibat sering terpapar sinar matahari. Sedangkan wajahnya yang tirus telah berhias lingkaran biru pekat di sekitar matanya, tanda sang maut sedang mengancam jiwanya.
Sambil mengikuti langkah para prajurit, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku pada wajah kusamnya. Mengutuki nasibnya yang buruk, harusnya ia masih bermain dengan sebayanya. Mengapa ia dibiarkan jauh, bahkan kelewat jauh dari induk semangnya. Bersama orang-orang yang tidak dikenalnya. Sekarang maalh terdampar di tanah yang dirinya sendiri tidak tahu terdampar dimana. 
“Letakkan saja disebelah sana!” tunjuk prajurit setelah ia membuka pintu penjara yang berat.
Seorang yang tubuhnya sudah kaku kami bujurkan di tengah ruangan. Sedang dua lainnya kami baringkan di atas rumput kering. Paling tidak tubuhnya akan sedikit hangat. Sementara dua orang lainnya lagi mengambil tempat di sudut ruangan.  
“Kamu! Bawakan air untuk mereka!” perintah seorang prajurit sebelum aku pergi meninggalkan tempat tersebut.
**

Dulu, si-Mbok pernah bercerita, jika takdir dan perjalanan hidup setiap manusia telah tertulis pada lembaran-lembaran daun kehidupan, jauh sebelum kelahirannya. Apabila seseorang akan meninggal maka daun yang bertulis garis hidup itu akan tanggal dari tangkainya. Para malaikatpun segera mengambilnya dan selanjutnya ia akan menjemput roh manusia yang namanya tertulis pada daun.
Aku kembali menapaki jalan menuju penjara manakala angin berhembus cukup keras, membuat siulan sambil menerbangkan daun-daun kering bersama debu pasir.
“Apakah kalian sedang menjemput mereka?” bisikku sinis.
“Kurasa, Malam ini akan terasa lebih panjang dan melelahkan,” desah Atong yang membantuku membawa beberapa keperluan. Atong juga salah satu budak yang juga dibeli oleh Major Williem. Sebenarnya Atong adalah seorang yang jenaka, namun keceriaan itu telah pudar darinya. Tekanan dan kelelahan hidup memaksanya luruh dalam labirin yang gelap.
“Goedenavond meneer,” sapaku pada parjurit jaga.
“Kamu! Apa saja yang kalian bawa!” Matanya segera menyelidik barang yang kami bawa.
“Kebetualan dibarak orang-orang sedang merebus ubi, jadi kami bawakan sekalian untuk tuan,” jawab Atong sambil membuka keranjang yang dibawanya. Tiga prajurit jaga segera mendekati Atong, mereka tampak senang. Yang seorang lagi segera membukakan pintu penjara. Ia mengerakkan kepalanya tanda menyuruhku untuk masuk. 
Buru-buru aku memberikan air dan dua bongkah ubi pada kedua awak kapal. Selanjutnya aku memeriksa awak kapal yang tidak sadarkan diri. Mula-mula, aku memeriksa nadinya dengan hati-hati seperti yang diajarkan suster Merie. Aku kecewa karena tidak bisa menemukan tanda-tanda kehidupan, tubuhnya telah dingin. Aku menepis air mata yang tiba-tiba menetes. 
Aku segera beralih pada tubuh kurus yang tergolek di atas rumput kering. Aku lakukan hal yang serupa, “matur nuwun gusti!” bisikku lirih. Karena aku bisa merasakan denyut nadinya walau sangat lemah. 
Selanjutnya kuseka muka, tangan, badan dan kakinya dengan kain basah, juga membasahi bibirnya dengan air. Sambil terus berdoa, semoga ia mampu melewati malam ini. Semoga besuk kedua matanya terbuka. Semoga mulutnya dapat mengatakan alasan jauh dari rumah. Semoga aku dan dirinya berjodoh untuk saling berbagi kisah tentang petualangan dan perjalanan hidup.
“Jangan pergi! Bertahanlah! Berjuanglah! Wahai bocah pengembara, agar kamu bisa melihat kilauan cahaya matahari yang menyinari pasir Onrush!”

---***---

Lanjutkan membaca
Bagian Ke-5: Bacca dari Pegunungan Muller


[1] Oase: Sumber mata air yang berada di tengah gurun.
[2] Londo = Belanda
[3] Lantaarn = Lentera: lampu minyak yang tertutup kaca

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian-2: Bidadari Tanpa Sayap

Bagian-5: 'Bacca' dari Pegunungan Muller