Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Bagian 3: Jan Pieterzoon Coen

Penulis: Wedhya Wardani Kisah Sebelumnya Bagian ke-2: Bidadari Tanpa Sayap Seorang kepala tukang --orang yang ahli yang dibidang kapal-- berkeliling, mengecek dengan teliti keadaan kapal yang baru saja datang dari perjalanan panjang. Selanjutnya ia membagi tugas dan menerangkan apa yang harus kami lakukan. Aku mendapat tugas untuk mendempul lambung kapal. Dibawah petunjuk dan pengawasannya aku mulai dengan pekerjaan baruku. Mula-mula menyumpal sambungan, atau lubang kecil dengan sabut kelapa kemudian mendempulnya dengan bubuk kapur yang telah dicampur dengan minyak jarak. Setiap lapisan sambungan didempul dengan teliti dan hati-hati, agar air laut tidak merembes ke dalam kapal. Selain sangat berbahaya akan fatal akibatnya yakni kebocoran bahkan karamnya sebuah kapal, begitu terang kepala tukang. Tatkala bayangan kincir angin jatuh ke arah timur, aku bergegas menyudahi pekerjaanku dan berlari ke satu-satunya klinik di pulau ini. Menjumpai Suster Merie untuk membantunya memperba...

Bagian-2: Bidadari Tanpa Sayap

Penulis: Wedhya Wardani Kisah Sebelumnya: Bagian Ke-1: Tahanan Sempoyongan. Aku terus berjalan dalam iring-iringan. Kakiku bergetar, sendi-sendiku semakin lama semakin lemah untuk menopang tubuhku. Keringat dingin mengalir membasahi tengkuk diikuti pandangan yang bluur . Ku-ucek mataku, hanya menambah keseimbanganku yang goyah. Bumi berputar dengan cepat. Aku terjungkal dilangkah yang berat. Limbung. Terkapar dengan mata mendelik. Kulihat orang-orang berhambur menyerbuku, lengan-lengan kurus namun berotot, meraih tubuhku dan menahan agar tidak jatuh ke tanah pasir. Tapi, kurasa hanya dua pasang lengan yang benar-benar menahan, sebab yang lain langsung terhalang oleh laras senjata prajurit. Sambil berteriak-teriak prajurit mendorong agar barisan terus bergerak. Tapi seorang lagi menyusulku. Ia melorot diantara himpitan tubuh teman-temannya. Ia tergolek, wajahnya biru! Diantara kesadaran yang kian menipis aku masih bisa melihat, seorang lagi tumbang dengan memegang kepala...

Bagian-1: Tahanan

Gambar
Penulis: Wedhya Wardani Kutegakkan kepala. Leherku terasa akan patah begitu digerakkan. Gemeletak. Tulang-tulangku kaku, mirip pokok kayu jati yang mengeras karena telah bersekutu dengan kemarau. Kuputar-putar dan kupalingkan beberapa kali. Memijitnya dari tengkuk hingga bahu dengan jari-jariku yang mengapal. Pelan-pelan. Nyaman sekali karena urat-uratnya menjadi sedikit kendor. Belum tuntas aku merasainya, penglihatanku disundut oleh cahaya. Mataku berkedip dengan cepat, menghindari satu kilatan yang lepas terpantul dari bayonet di punggung seorang sergeant yang berdiri siaga di Bastionnya. Aku menggeser posisiku ke samping. Ia sedang mengeker dengan bantuan teleskop, mengawasi perairan yang setenang pantun-pantun dan gurindam yang dipersembahkan untuk sang pujaan hati. Dari arah lain Luitenant Jansen berteriak segarang auman macan, berkacak pinggang sedang tangannya yang lain melambai-lambai. Setengah berlari aku menuju ke arahnya, berjejal-jejal bermandi keringat. Aku d...