Bagian-1: Tahanan

Penulis: Wedhya Wardani


Kutegakkan kepala. Leherku terasa akan patah begitu digerakkan. Gemeletak. Tulang-tulangku kaku, mirip pokok kayu jati yang mengeras karena telah bersekutu dengan kemarau. Kuputar-putar dan kupalingkan beberapa kali. Memijitnya dari tengkuk hingga bahu dengan jari-jariku yang mengapal. Pelan-pelan. Nyaman sekali karena urat-uratnya menjadi sedikit kendor. Belum tuntas aku merasainya, penglihatanku disundut oleh cahaya. Mataku berkedip dengan cepat, menghindari satu kilatan yang lepas terpantul dari bayonet di punggung seorang sergeant yang berdiri siaga di Bastionnya. Aku menggeser posisiku ke samping. Ia sedang mengeker dengan bantuan teleskop, mengawasi perairan yang setenang pantun-pantun dan gurindam yang dipersembahkan untuk sang pujaan hati.

Dari arah lain Luitenant Jansen berteriak segarang auman macan, berkacak pinggang sedang tangannya yang lain melambai-lambai. Setengah berlari aku menuju ke arahnya, berjejal-jejal bermandi keringat. Aku dan yang lain membentuk satu barisan.
“Apa kalian semua tuli! Bel berdentang-dentang seperti anjing dicekik, masih juga kalian mematung!” hardiknya, telah biasa menyengat telinga kami.
Senja terus merangkak, mengangkangi hari dan mengaburkan pandangan. Barisan bergerak bersama bayangannya, digiring menuju barak oleh beberapa serdadu kelas rendah. Setiap hari kegiatan ini berlangsung rutin --pagi dan menjelang petang-- setiap itu pula aku teringat dengan bebek-bebek yang dulu biasa aku gembalakan.

Sewaktu aku menggiringnya pulang, bebek-bebek berbaris tertib, berjajar-jajar melewati pematang sawah, melintasi jembatan bambu, menyeberangi parit, rapi tidak ada yang saling mendahului. Yang menarik, jika aku mengarahkan ranting yang kupegang ke kanan maka bebek-bebek akan berjalan ke arah kiri. Sebaliknya jika aku mengoyangkan tongkatku ke arah kiri maka bebek-bebekku akan melenggang ke arah yang berlawanan. Bedanya disini, jika Luitenant Jansen dengan cambuknya menunjuk ke arah kiri dan kita menuju ke kanan, maka gagang bedil[1] yang dipanggul para prajurit penjaga dengan suka hati langsung menghajar punggung, meninggalkan ngilu dan lebam pada kulit.

Yang kedua, selama perjalanan bebek-bebek saling bicara;  beberapa pejantan cerita tentang berapa betina yang telah dikawini, sementara para betina saling membanggakan jumlah telur yang mereka hasilkan, sedangkan bebek-bebek muda dengan bersemangat berteriak-teriak bahwa hari itu telah mendapatkan santapan terlezat yakni cacing sawah yang gemuk. Mereka terus bersahut-sahutan, ramai tiada terkira. Sampai semuanya masuk ke kandang, pun tetap berisik. Tapi dalam barisan ini, satu kata berarti satu erangan, karena ditohok oleh gagang senapan.

Kulirik seorang serdadu yang siaga tidak jauh mengawasi rombongan kami. Badannya yang jangkung sedikit melewati tinggiku, tubuhnya dibalut seragam biru yang membuatnya terlihat gagah sekaligus menyiksanya dengan gerah. Sementara kulit mukanya yang putih terlihat kemerah-merahan karena tertimpa sinar matahari. Hidungnya yang lancip membuat matanya melesek ke dalam, menonjolkan alisnya yang lebat dan jidatnya yang lebar. Kepalanya tertutup topi, hanya menyisakan sedikit rambutnya yang coklat bergelombang. Seperti halnya rata-rata prajurit, bahu kanannya memanggul bedil.

“Berhenti!” teriak seorang prajurit yang tiba-tiba saja menunjuk ke arah barisanku. Sontak aku terpaku di tempat, menatapnya, berjalan menghampiri. Keringat yang tadi sempat mengering, tiba-tiba mengalir dingin bersama gelisahku.

Tiga hari yang lalu, seorang budak dihajar habis oleh seorang prajurit hanya karena ia meludah tanpa sengaja dihadapan seorang Sergeant. Yang di-interprestasikan oleh para londo itu sebagai penghinaan. Sedang dua minggu yang lalu seorang tertangkap basah, menyembunyikan sepotong makanan dibalik lipatan celananya. Iapun diseret ke tempat penyiksaan. Dan hingga sekarang nasibnya tidak ada yang tahu. Mungkin saja telah tewas. Sebab para pendatang berkulit pucat ini tidak akan mau repot-repot mengurus orang-orang macam kami. Jika mati paling langsung dikubur dan jika bisa bertahan akan dikembalikan bersama pekerja yang lain.

Prajurit bertubuh jangkung semakin dekat, walau aku merasa tidak melakukan kesalahan, wajahku telah pias. Angin pantai yang seharusnya menyegarkan, hembusannya tidak lebih dari tamparan-tamparan yang semakin memucatkanku. ‘Aduh gusti’, apakah karena tadi aku terus memperhatikannya dan ia merasa tidak senang? Dadaku bergemuruh. Perutku terasa diaduk layaknya mabuk laut. Sebentar lagi mungkin aku akan kencing di celana.

“Kamu! Jalan!” Tangan prajurit mendorong tubuhku dengan kasar, membuatku tersuruk sedepa ke depan. Disaat yang sama Leutenant Jansen memberi aba-aba agar aku segera masuk ke dalam barisan lagi. Kakiku dengan terburu mengikuti perintahnya. Sekelebat kulihat prajurit jangkung menyodokkan gagang senapannya ke perut lelaki yang tadi sejajar denganku. Lelaki itu tersungkur. Mengerang, sujud di tanah. Gendang telingaku seperti dirobek, saat terdengar suara lelaki menjerit tinggi diantara hiruk pikuk dua prajurit yang menghajarnya. Aku semakin mempercepat langkahku tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.

Kutundukkan muka dalam-dalam, berjalan dengan bisikan angin yang bergumam masam, mencaci kepengecutan kami; para bumiputera yang telah terbabat keberaniannya hingga pangkal. Impoten! Bumiputera yang tertindas karena kebodohan. Bumiputera yang amat sangat penakut! Bumiputera yang penurut – yang manggut-manggut kebablasan-- menghamba dengan mata terpejam pada para Kanjeng yang justru menjual hambanya!!!! Achhhhhhhh!!!!!!

Dadaku terus bergemuruh, merancau tanpa arah, menjalar riuh dan berusaha memprovokasi otakku untuk berontak. Sayangnya jiwa penakut dan kerdilku yang lebih besar. Alhasil mulutku tetap terkunci walau mataku nanar menatap jalan yang kulalui dengan kosong.
*
Akhirnya iring-iringan sampai di depan barak. Sementara pandanganku terus menunduk, seluruh tubuhku digerayangi secara kasar, utamanya lipatan kain yang kencang membebat pinggangku. Setelah pemeriksaku yakin aku ‘bersih’; tidak menyembunyikan satu benda apapun. Aku digelandang masuk ke dalam satu bilik. Pengap. Bau tanah, batu pondasi dan karat berselang-seling dengan apek keringat membaur, selalu memusingkan kepalaku untuk beberapa waktu. Aku meringkuk dekat jeruji. Dari balik jeruji, kuremas besi penghalang yang masih hangat ditelapak tangan.

Sambil menunggu jatah makan malam, kupandangi bulan yang belum sempurna lagi pucat, aku menerawang pada kejadian seminggu yang lalu. Saat itu aku dan dua orang yang lain diperintah untuk melakukan pekerjaan paling ringan yang pernah diberikan. Tugas kami adalah membersihkan kamar nahkoda berikut merapikan mayat kapten kapal yang mati setelah beberapa hari sampai di pulau ini. Menurut desas desus dan diyakinkan dengan diagnosis akhir seorang Dokter yang sengaja didatangkan dari Batavia, bahwa Kapten Kapal meninggal karena satu penyakit yang mereka sebut ‘remitterende rotkoortsen’[2]. Penyakit yang sangat mengerikan. Konon jika pagi terserang maka dapat dipastikan malam tidak akan sempat lagi terlewati. 

Yang menarik Bagiku bukanlah cerita tentang ganasnya penyakit tersebut. Sebab aku sudah terbiasa berhadapan langsung dengan berbagai penyakit berikut kematian. Tidak ada yang menggetarkan apalagi menakutkan. Justru ketertarikanku pada pembicaraan dua pria yang datang bersama Nahkoda yang tewas tersebut. Kurasa keduanya adalah pelajar yang baru menyelesaikan pelajarannya dan sekarang mencoba mengadu keberuntungan di oostoek[3]. Sangat mengundang rasa penasaranku, yakni pada saat keduanya menyebut teori Copernicus, yang menyatakan bahwa bumi berbentuk bulat. Itu adalah hal yang sangat aneh bagiku, dmm, bagaimana ada pemikiran seperti itu? 

"Tentu aku akan ikut gila jika terus memikirkannya!" gumamku sinis. 

Cukup sudah dengan kebodohan ini, namun jangan menjadi gila karenanya, desisku. Sebab kebodohan sudah menakutkan bagiku. Ia seperti asap gelap yang bergumpal pekat, hanya karena di dalam batok kepala tidak mengenal huruf. Aku merasa dunia begitu sempit dan rumit yang tidak mampu kucapai dengan nalarku apalagi terkait hidupku yang jatuh terjerembab dalam labirin-labirin nasib yang tidak menentu. Aku merasa lelah, karena kebuntuan yang selalu kutemui. Aku begitu rindu akan waktu-waktu yang kemarin bergulir tanpa pernah mensyukurinya. Segalanya semakin berat dalam ingatanku sampai semuanya berlabuh pada seraut wajah yang selalu membuatku ayem [4].
*
Hari itu adalah hujan pertama yang menyudahi musim ketigo[5], dimana berkah langit turun menyirami ladang, menyapu tanah pekarangan yang penuh dengan gundukan rumah semut, membasuh debu dari atap dan pelepah-pelepah pisang, memenuhi sumur-sumur dan mata air yang susut, mengecambahkan biji-bijian yang ditebar lewat kotoran burung dan hewan lainnya, juga menggeliatkan akar ilalalang dan umbi krokot[6] dari tidur panjangnya. Aku bersila takjim menghadapi ubi jalar yang telah direbus dan disiram dengan gula aren. Sedangkan Si Mbok tidak jauh dari tempatku, tengah memilih beberapa daun sirih, menambahkan gambir, juga memoleskan sedikit kapur cair, melipatnya beberapa kali lalu mengunyahnya dengan nikmat.

Disela-sela decak lidah dan bibirnya yang mulai memerah, Si mbok mengulang wejangannya yang kesekian ratus kali; “Wong bagus, urip iku kudu durmeing pepesten” –anakku hidup itu harus pasrah pada garis yang telah ditakdirkan. Aku  diam, mendengarkan dengan santun. Sedang si Mbok memuntahkan kinang[7] yang telah digerus oleh giginya yang hitam kemerahan ke dalam baskom dan sekali lagi menyumpalkan sesek[8] tembakau ke dalam mulutnya.

Hanya setengahnya aku setuju dengan apa yang dikatakan Si mbok. Sedang sisanya lagi adalah spekulasiku sekaligus pembuktian dengan apa yang kuyakini. Walau begitu aku tidak akan mengeluarkan argumentasiku. Tukar pendapat hanya akan membuat si Mbok muntab. Karena dalam pandangan si Mbok hal tersebut adalah sikap yang tidak hormat pada orang tua, alih-alih dicap sebagai anak durhaka – Innalillah.   Jadi yang terbaik adalah membungkam mulutku. Sebab setelah Bopo meninggal dunia, hanya si Mbok yang kumiliki. Aku tidak ingin menyakiti hatinya. Aku tahu benar betapa sulit mengurusku sekaligus mencari nafkah untuk membesarkanku.

Bopo menghadap Tuhan persis seminggu setelah aku disunat. Si mbok menemukan tubuh Bopo yang telah menjadi mayat di atas bale-bale bambu tempat biasa Bopo bersantai sepulang dari ladang.  Tidak ada bekas luka, atau siksaan yang menunjukkan jika beliau dianiaya atau diteluh oleh seseorang. Atau tanda-tanda ada gangguan pada kesehatan sebelum kematiannya. Karena sepanjang pengetahuanku, Bopo orang yang sangat sehat. Bopo tidak merokok atau minum arak seperti yang dilakukan para dewasa di kampungku, seluruh waktunya dihabiskan untuk bercocok tanam. Hanya jika ada yang membutuhkan pertolongannya, beliau menyerut kayu untuk dijadikan kerangka rumah, mengganti genting yang bocor, membuat kandang ayam dan berbagai pekerjaan pertukangan. Sementara Si Mbok terus terisak dan jatuh pingsan beberapa kali. Orang kampung segera mengurus jasat Bopo. Sambil menyiapkan acara penguburan, mereka saling berbisik; Bopo tewas terkena angin dudu’’[9].
*
Seorang serdadu menyorongkan jatah makan malam. Menu utama para budak dan buruh yakni rebusan roti sumbu[10] yang sudah melewati masa panas dan dingin. Bersaing dengan tangan-tangan lain, aku berebut untuk mendapatkannya. “Sial!” Aku mendapat potongan kecil. Kulirik seorang lelaki bermata cekung yang berhadapan denganku. Ia berhasil mendapatkan dua potong. ‘Ah tidak!’ Kukira ia mendapat lebih dari tiga potong. Karena mulutnya juga telah penuh tersumpal ubi. Saat mata kami beradu, bola matanya melotot ke arahku, mirip monyet yang takut jika makanannya akan direbut. Akupun beringsut menjauh. Kembali berjongkok di samping teralis dimana obor digantungkan, apinya berkibar-kibar dikibas oleh angin. Kugigit ketela, ujung lidahku seperti tersengat, kubiarkan mengeram di lidahku beberapa saat, rasanya seperti mencekik leherku. Pahit, bahkan lebih pahit dari daun pepaya. Seluruh rasa ditubuhku menolak makanan tersebut untuk masuk. Tapi lambungku lebih kuat menggerutu karena lapar, akhirnya tertelan juga.
“Anjing yang kelaparanpun tidak akan mau memakannya!” hardik seorang di sudut gelap, yang urung memakan jatahnya.
Membuat keadaan menjadi ribut, dan satu pukulan keras dari senapan yang beradu dengan teralis besi cukup menghentikan kericuhan. Mengembalikan senyap malam seperti sedia kala.

Aku tidak perduli dengan yang diributkan. Mati akibat keracunan atau kehabisan tenaga, sekarang atau nanti, bagiku sudah tidak berarti lagi. Yang penting perutku tidak meraung semalaman. Kuraih kendi[11], meneguknya, sepuas kerongkonganku dapat mereguhnya. Aku bersandar di dinding batu. Membiarkan fikiranku terus membuat kutukan atas diri sendiri karena menjadi budak. Sebab kuyakini ini bukanlah “pepesten”, atau ketetapan dari yang memberi hidup. Karena semua yang terlahir adalah mahluk yang bebas, selain yang telah digariskan; kelahiran, rejeki, jodoh, dan kematian. Selebihnya setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan hidupnya. 

Sungguh, di dalam mimpi sekalipun aku tidak pernah mengharap untuk menjadi seorang tahanan apalagi budak, dirantai, digiring seperti kambing, dihina layaknya kotoran, dipaksa bekerja seperti kerbau; membongkar-muat barang-barang tanpa kenal waktu atau memanggul batu-batu kali untuk tanggul hingga tulang belulangku remuk di satu pulau dengan luas lebih kurang12 hektar yang mereka namai ONRUST.

** 

Lanjutkan membaca:
Bagian-2: Bidadari Tanpa Sayap

[1] Bedil: Senapan
[2] Remitterende rotkoortsen=demam maut; Salah satu jenis penyakit yang berakhir dengan kematian
[3] Oostoek: Ujung Timur
[4] Ayem (bhs. Jawa): tenang
[5] Ketigo yakni Musim Kemarau, lawannya adalah Rendeng yang berarti musim hujan(dalam masyarakat Jawa)
[6] Krokot: sejenis rumput, umbinya mampu bertahan didalam tanah selama musim kering, dan kembali bertunas saat musim hujan
[7]  Kinang=Menginang;
[8]  Sesek: rajangan daun tembakau yang dikeringkan secara diangin-angikan, merupakan pelengkap setelah menginang.
[9] Angin dudu’ atau angin gending (di daerah probolinggo) adalah angin yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai angin jahat, yang bisa merenggut nyawa manusia atau hewan, melayukan dan mematikan tanaman yang baru tumbuh, juga merontokkan putik-putik  atau bakal buah.
[10]    Sebutan lain dari ubi kayu
[11]    Kendi: teko yang terbuat dari tembikar (tanah liat)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian-2: Bidadari Tanpa Sayap

Bagian-4: Kapal Pengintai

Bagian-5: 'Bacca' dari Pegunungan Muller