Bagian-5: 'Bacca' dari Pegunungan Muller
Penulis: Wedhya Wardani
Kisah sebelumnya
Onrush Bagian-4: Kapal Pengintai
------------------------------------------
Kisah sebelumnya
Onrush Bagian-4: Kapal Pengintai
------------------------------------------
Anak lelaki itu datang bersama seorang pria bertato. Gambar
bunga pada bahu dan dadanya yang menunjukkan dia serorang Punan[1]. Pria
tersebut meminta agar Gujarat mengijinkan anak lelaki yang nyaris telanjang
tersebut ikut dengan kapalnya. Namun dengan terbahak Gujarat menolak permintaan
sang Punan.
“Dengar aku bukan penjaga bayi! ha, ha,,” sekali Gujarat mengibaskan tangannya agar
laki-laki tersebut pergi.
Namun pria dimaksud tidak menyerah
begitu saja. Ia mengejar sang Gujarat dan berusaha menyakinkan. Jika anak
lelaki tersebut sangat rajin dan bisa membantunya mengerjakan pekerjaan seperti
laki-laki dewasa pada umumnya, seperti menyapu, membersihkan dan mengepel
geladak, mencuci peralatan juga pakaian. Sang Gujarat kembali menggeleng
beberapa kali, yang berarti TIDAK. Untuk yang kesekian kali pria bertopi
anyaman daun pandan dengan hiasan bulu enggang itu langsung menghadang langkah
Gujarat yang hendak menuju kapal.
“Anakku juga bisa menghibur, Ia pandai bernyanyi,” tawar
Punan
“Maksudmu apa?” tanya Gujarat membelalakkan mata. Dalam fikirannya,
apa yang bisa dilakukan seorang bocah laki-laki kurus kering itu di atas
kapalnya. Sekali lagi Sang Gujarat mencibir, “Hey! Asal kau tahu awak kapalku
hanya butuh penari perut yang cantik!” ejek Gujarat sambil menggoyangkan
perutnya yang tambun penuh dengan tumpukan lemak.
“Tolonglah, ia ingin mencari Bapaknya. Terakhir dari seorang
pelaut terlihat di Sunda Kelapa,” terang Punan memelas meminta kemurahan hati
Gujarat. Lawan bicaranya justru menggeleng mantap. Pria berkalung untaian gigi
buaya itu, termanggu, menatap Gujarat dengan masgul. Lalu ia mengambil kantong
kecil yang terikat dipinggangnya, mengeluarkan isinya dan menunjukkan kepada
Gujarat sebagai penawaran agar mau membawa anak lelaki tersebut menumpang di kapalnya.
“Jika kamu bersedia membantu, atas nama dewa-dewa kami, semoga kemakmuran
bersamamu!” lanjut pria itu menambahkan pembayaran dengan doa berharap sang
anak lelaki boleh ikut di kapal Gujarat.
Sang gujarat mendengus keras membagi
aroma arak dan sisa makanan dari mulut dan hidungnya. Bukan karena kata-kata sang
Punan yang mulai meresap kesusunan syarafnya yang sudah tumpul akibat miras.
Namun karena sang Gujarat adalah seorang pedagang tulen. Perhatiannya seketika
terpaut pada benda yang ditawarkan si-punan yang masih berdiri di depannya.
Lalu berselang-seling pada anak lelaki kurus yang mematung bertelanjang kaki.
Bukan saja kemakmuran, kemewahanpun sudah terendus oleh sang Gujarat. Butiran
batu sebesar kerikil itu menarik perhatiannya. Sangat menggoda untuk memiliki
barang tersebut. Belum lagi dtambah anak lelaki kurus itu yang menjadi bonus
tambahannya. Ia bisa memanfaatkan tenaganya. Benar, keberuntungan tidak datang
setiap hari. “Emmm”. Sekali tangkap dua keuntungan sudah dalam genggaman. Sambil
terkekeh bola mata Gujarat bermain dengan gembira.
Sejenak sorot matanya berubah menjadi teduh,
menyembunyikan keserakahan yang mengelorakan jiwanya, selanjutnya dengan nada
lembut penuh empati Gujaratpun bertanya, ”Apakah ada alamat yang akan dituju?”.
“Ada kerabat jauh yang juga merantau ke
sana, semoga ia belum pindah,” terang si punan.
“eemm.... baiklah jika demikian!” jawab
Gujarat sembari mengambil buntalan kain berisi biji-biji emas dengan cepat dari
tangan si-Punan.
“Terima kasih Tuan!”
Gujarat hanya manggut-manggut sambil sesekali
mengelus buntalan yang kini tersimpan di balik lipatan kain yang membebat
perutnya. Karena sesungguhnya ia tidak perduli apa dan akan kemana Si kecil
kurus tersebut akan pergi. Yang pasti Gujarat telah memiliki rencana sendiri
pada bocah yang akan menumpang di kapalnya.
*
Setengah berjongkok, Punan berpesan pada
sang bocah, “Sebetulnya aku tidak suka
dengan laki-laki tersebut. Ia licin seperti belut. Tapi hanya kapalnya yang
saat ini bisa membawamu ke negeri seberang. Berhati-hatilah terhadapnya!”
“Aku mengerti,”
jawab si bocah sambil melirik ke arah Gujarat yang berdiri dua tombak dari
tempat mereka yang sesekali tersenyum sambil mengelus lipatan kain di perutnya.
“Moyang kita
adalah pengembara yang hebat, merambah hutan, menaklukkan gunung, juga
menyeberangi lautan,” terang si Punan. Si bocah hanya mengangguk.
“Apa kamu
pernah mendengar ikan terbuas di lautan? Bahkan ia lebih buas dari hewan yang berada di darat!” lanjut
si Punan.
“Tentu, itu adalah kisah yang aku
suka.”
“Em, inilah
gigi hewan itu. Semoga roh moyang dan raja ikan melindungimu selama
perjalanan!” terang si
Punan sambil mengalungkannya di leher si bocah. Sejenak keduanya saling beradu
pandang, sekali sang Bocah mengangguk tanda ia sangat mengerti.
“Saatnya kita pergi!” teriak Gujarat.
“Tentu!” sahut si Punan. “Ingat baik-baik
pesanku!” sembari menepuk bahu si bocah.
Gujarat segera menaiki kapal diikuti si
bocah, ” Ho…Ho…anak-anak sambut teman kecil kita! ‘Bacca’. Ia akan turut
bersama kita mengarungi laut!” teriak Gujarat pada krunya.
Mendengar suara Gujarat yang mengelegar
mengalahkan debur ombak pantai, para anak buah kapal menghentikan pekerjaannya.
Seorang awak kapal bertubuh ramping yang berada di atas tiang layar bersiul
sambil melambaikan tangan, dua orang yang berada di kemudi mengangkat topi bututnya dan sebagian
yang lain menoleh sembari melempar senyum selamat datang pada anak lelaki yang
membalasnya dengan anggukan kepala.
“Bagus! Awak kapalku sudah menerima. Bersikap
baiklah pada mereka, Bacca!” lanjut
sang Gujarat sambil mengelus janggutnya.
“Aku akan berusaha!” sahut Bacca.
Tidak
berapa lama jangkar ditarik dan kapalpun bergerak di atas air. Awalnya pelan,
melaju mengikuti hembusan angin menuju muara dan perairan bebas. Menyadarkan Si bocah bahwa perjalanannya
telah dimulai. Wajahnya merambat pucat, Ia berlari. Melawan arah mata angin.
Lurus. Bahkan tidak perduli pada seorang awak kapal yang nyaris ditubruknya. Ia
menghindar secepat gasing. Kembali berlari dengan seluruh kekuatan. Mungkin
sekencang saat dirinya membantu bapaknya berburu babi hutan.
Sampai di buritan, nafas Bacca memburu,
pandangannya nanar namum ia masih bisa melihat dengan jelas, lambaian tangan
sang Punan yang mengantarnya. Tapi, bukan
sosok pria tersebut yang membuatnya tercekat dan sedih. Melainkan, pada
rimbunnya hutan, akar-akar pohon-pohon ulin tua, sulur-sulur rotan, pekat hijaunya
warna humus, atau harumnya bunga liar dan cerecet orang utan yang berebutan
memanen buah-buah hutan.
Si-bocah tiba-tiba merasa kecil. Amat kecil. Lebih kecil dari
tubuhnya, bahkan lebih lagi. Barangkali sekecil butiran-butiran biji jagung
yang dipipil untuk dijadikan bibit. Tidak! lebih kecil lagi, ya, teramat kecil.
Hingga tidak ada keberanian yang tersisa. Hanya ketakutan yang mencengkeram.
Karena dalam sekejap! Ia terpisah dari daratan tempatnya dilahirkan. Ia telah
menjadi seorang yatim-piatu. Pengembara yang tidak memiliki tempat untuk
pulang. Jauh dari semua yang dincintainya. Terasing, dari semua yang dikenalnya.
Kapal terus bergerak mengikuti aliran sungai Barito. Gemulai
meninggalkan rimbunnya pedalaman. Penglihatan Bacca kian kabur. Seribu bayangan
berkelebat secepat cahaya. Membuat pandangannya berputar-putar. Kepalanya terasa
berat, seolah ada sesuatu yang menekannya. Hingga ia tidak mampu menahannya.
Ditutupnya mata rapat-rapat dengan kedua tangannya. Mengurangi pusing yang bisa
membuatnya tidak sadarkan diri. Akan tetapi desau angin justru membawakannya
aroma lumut yang menempel di bebatuan kali, dimana airnya gemericik tanpa henti
mengalir lengkap
dengan kecipak ikan gabus saat terjerat perangkap bambu yang dipasang.
Satu
kalimat menyelusup, membuyarkan semua ketakutan yang tiba-tiba menyergapnya dan
hendak menyurutkan langkahnya. Pesan Bapaknya,
kini terngiang-ngiang bahkan lebih jelas daripada saat dirinya mendengar langsung, ‘Pantang bagi seorang lelaki mengingkari
janji!’
Si bacca menyibakkan rambutnya yang
menutup muka. Ia pun menarik nafas dalam, membesarkan dirinya kembali keukuran semula.
Membulatkan seluruh tekad. Membuat dadanya bergemuruh, hangat menjalar keseluruh
tubuh dan otaknya, keberanian kembali menyembul kepermukaan. Menerobos kegelapan
alam sadar. Pelan-pelan Ia membuka matanya. Bola matanya yang sepekat granit
terbelalak. Terkejut tiada terkira. Karena Ia tidak lagi melihat; Jajaran
pegunungan Muller yang hijau menyejukkan, lambaian dahan-dahan yang berurat di sepanjang
garis sungai barito, atau rumpunan Ilung-Ilung[2]
dengan bunganya yang berwarna ungu tersibak saat perahu atau kapal melintas.
Kini yang terbentang, terpantul dari korneanya yang sejernih cermin, bahwa
langit dan lautan tidak berbatas lagi. Hanya BIRU. Sepanjang matanya memandang.
**
Walau baju pemberian seorang awak kapal telah dijahit agar lebih
kecil. Masih saja terlihat kedodoran saat dikenakan oleh Bacca. Tapi cukuplah melindungi
badan kurusnya dari terpaan angin.
Karenanya agar tidak mengganggu gerakannya, dipalungnya
lengan baju hingga kepangkal lengan. Selanjutnya ia mulai memunguti botol bekas
minuman yang tergeletak di lantai. Memasukkan kedalam tong kayu yang berukuran
lebih besar dari pada tubuhnya, sebagian yang pecah langsung dilemparnya ke
laut. Lalu dengan sigap mengumpulkan piring bekas jatah makan malam sekaligus
membersihkan lantai geladak dari tumpahan makanan dan minuman adalah tugas
rutin setiap pagi bagi Bacca sebelum ia menjerang air dan memasak makanan untuk
seluruh kru kapal.
Gerakannya yang lincah beriring bersama suara kecilnya yang
masih mirip suara anak gadis. Lamat-lamat Bacca bersenandung tentang kecantikan
lembah di pegunungan Muller, teduhnya hutan pakis, menawannya bunga anggrek yang
bergelantungan di pohon inangnya. Kilaunya embun di pucuk-pucuk dedaunan kala
tertimpa sinar saga keemasan, juga eksotisnya kepak sayap kupu-kupu dari berbagai
spesies dengan beraneka warna, corak dan ukuran. Tidak lupa cerita tentang
menawannya anak-anak Sungai Barito yang berkelok-kelok layaknya seekor ular
raksasa, mengalir deras tiada henti walau musim kemarau tengah merangkul
seluruh kawasan dengan erat.
Gujarat mengeliat dari tidurnya. Matanya
yang masih terkantuk-kantuk menangkap sosok kurus, berjongkok mengepel lantai.
Gujarat berteriak lemah,
“Kau sudah bekerja! Aku be-run-tu-ng
me-mi-li-ki-muuu!” Gujarat menggelengkan kepalanya sekali, “Kemakmuran
bersamaku,” desisnya. Lalu ia mengangkat botol yang dipeluknya. Matanya
memicing sebelah. Mengeker isi botol yang tinggal setetes. Lidahnya menjulur,
mencecap tetes terakhir arak. Gujarat kembali menguap dan menenggelamkan
anggota tubuhnya ke dalam jubah. Melanjutkan mimpinya tentang penari-penari
perut yang ramping, lentur, gemulai diantara harum kesturi yang melenakan.
Bacca tidak memperdulikan ocehan
Gujarat, dendangnya terus bergumam bagai rapal-rapal mantra, seirama dengan
hembusan angin yang melajukan kapal dengan kecepatan konstan, tenang, membuat
para awak kapal yang masih belum terjaga bagai seorang bayi yang ditimang-timang
dalam ayunan kain. Mengantarkan mereka pada mimpi masing-masing; penaklukan,
pencarian jati diri, pengalaman, harta, daratan baru atau cinta yang tertinggal
nun jauh disana. Benar-benar melenakan. Membuat mereka lalai akan tugasnya
untuk membawa bahtera mengarungi Samudera dengan selamat.
*
Ubi dan kentang yang direbus telah
merekah di dalam kuali. Setelah ditiriskan, Bacca segera membawa sarapan pagi
ke geladak. Disaat itulah mata granitnya melihat sebuah kapal mendekati kapal
yang di naikinya. Nalurinya berkata akan sesuatu yang tidak baik. Maka tanpa
berfikir lebih lama, Bacca segera
berlari menuju sang gujarat yang masih mendengkur mirip kerbau air. Bacca mengguncangkan
tubuh Gujarat yang berlemak-lemak. Gujarat tidak bergeming. Dengkurnya kian
keras pula. Dicobanya untuk yang kesekian kali, tetap sia-sia. Sementara kapal tidak dikenal tersebut semakin mendekat.
Tidak ada pilihan lain, fikir Bacca. Dengan sekali hentakan Bacca menarik
selimut yang menutupi tubuh Gujarat. Angin segera meraup tubuh Gujarat, membuat
pori-pori kulitnya terjaga, sontak berdiri oleh perubahan suhu yang tiba-tiba.
Sang Gujarat terjingkat, matanya merah melotot persis di muka Bacca, layaknya
para dukun yang kerasukan pada upacara
pemanggilan roh. Sebaliknya wajah lugu Bacca tidak beriak sedikitpun. Ia hanya
berkerling dan menunjuk ke arah kapal yang terus mendekat.
“Banguuuuuuun!” Pekik Sang Gujarat
histeris. Sementara awak kapalnya kalang kabut, dengan setengah kesadaran yang
ada. Gujarat langsung menuju kemudi. Ia membanting
kemudi ke arah kanan dengan sekuat tenaga untuk menghindari tabrakkan.
Terlambat!
Tabrakan tidak dapat dihindarkan. Suara badan kapal yang beradu menimbulkan
suara keras. Posisi kapal menjadi oleng. Gujarat terpental, terhempas di lantai
dan sebelum semua awak kapal menyadari betul apa yang tengah terjadi. Beberapa
orang yang mengenakan topeng dengan pedang dan golok terhunus berlompatan ke atas
kapal. Gerakan para pendatang itu sangat gesit lagi cepat. Tidak membutuhkan
waktu lama para penyerbu melumpuhkan para awak kapal. Mereka menguasai kapal
tanpa perlawanan yang berarti.
**
[1]
Punan:
Suku Dayak Kalimantan
[2] Ilung-Ilung
(bahasa setempat) atau secara umum disebut Enceng gondok; Latin:Eichhornia
crassipes:Salah satu tumbuhan air mengapung kadang-kadang berakar dalam tanah
dengan tinggi sekitar 0.4-0.8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal
dan berbentuk oval. Ujung pangkalnya meruncing, dengan permukaan daun licin
berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, kelopaknya berbentuk tabung.
Habitatnya: tumbuh di kolam dangkal, tanah basah, rawa atau aliran air yang
lambat.
test
BalasHapus